Industri perikanan di Indonesia semakin berkembang, apalagi di Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai salah satu penghasil produk perikanan utama di tanah air. Salah satu tokoh muda yang patut diperhitungkan dalam dunia peternakan lele di Sulawesi Selatan adalah M. Nur Ramadhan. Lewat kegigihan, inovasi, dan semangat tinggi, M. Nur Ramadhan berhasil membangun dan mengembangkan usaha Peternakan Lele Ramadhan di Kabupaten Maros menjadi usaha inspiratif yang mampu memberdayakan masyarakat sekitar dan menghasilkan omset yang menggiurkan.
M. Nur Ramadhan bukan berasal dari keluarga berada. Ia tumbuh di lingkungan sederhana di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Sejak kecil, ia telah melihat banyak pemuda di desanya yang memilih merantau ke kota atau bahkan keluar negeri untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Namun, Ramadhan memiliki visi berbeda—ia percaya bahwa potensi desanya sangat besar jika dikelola dengan baik, terutama di bidang perikanan.
Ide untuk membangun peternakan lele muncul pada tahun 2013. Berbekal modal seadanya, hasil dari tabungan pribadi dan pinjaman orang tua, ia mulai membangun kolam lele skala kecil di halaman rumahnya. Tak jarang, M. Nur Ramadhan turun langsung ke kolam, belajar dari literatur, mengikuti pelatihan online gratis, dan berkonsultasi dengan dinas perikanan setempat. Tantangannya cukup besar, mulai dari banyaknya benih yang mati, kualitas air yang buruk, hingga keterbatasan akses pasar.
Berbekal pengalaman trial and error, Ramadhan terus memperbaiki sistem penangkaran lele miliknya. Ia fokus pada beberapa inovasi berikut:
Selain itu, Ramadhan memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi. Ia membuat kanal YouTube dan Instagram yang mendokumentasikan perjalanan usahanya, memberikan edukasi mengenai budidaya lele, dan membagikan tips sukses bisnis perikanan.
Pada awalnya, usaha ini hanya memiliki dua kolam dengan total 5.000 ekor benih lele. Namun, seiring berjalannya waktu dan meningkatnya permintaan pasar, M. Nur Ramadhan memperluas usahanya menjadi 15 kolam terpal dengan total kapasitas 45.000 ekor. Omsetnya pun mengalami peningkatan signifikan—dari yang sebelumnya hanya ratusan ribu rupiah per bulan, kini mencapai puluhan juta rupiah setiap panen.
Yang luar biasa dari kisahnya adalah komitmen Ramadhan untuk memberdayakan warga sekitar. Ia mempekerjakan para pemuda desa sebagai tenaga harian dan melibatkan para ibu rumah tangga untuk membantu proses pemberian pakan hingga sortasi lele. Selain itu, ia membentuk kelompok tani lele dan mengadakan pelatihan rutin, sehingga semakin banyak masyarakat yang ikut terlibat dalam usaha perikanan.
Ramadhan juga aktif menjalin kemitraan dengan koperasi, rumah makan, dan pasar tradisional. Ia menjadi pemasok utama lele segar ke beberapa kota di Sulawesi Selatan, seperti Makassar dan Pangkep.
Tentu saja perjalanan membangun usaha peternakan lele tidak selalu mulus. Beberapa tantangan yang dihadapi antara lain:
Dengan kreativitas dan kerja keras, perlahan-lahan segala kendala tersebut dapat teratasi.
Ketekunan dan inovasi yang dilakukan M. Nur Ramadhan tidak luput dari perhatian banyak pihak. Ia beberapa kali menjadi narasumber dalam pelatihan budidaya lele dan perikanan di Sulawesi Selatan. Tak hanya itu, usahanya juga memperoleh penghargaan dari pemerintah daerah sebagai salah satu Peternak Lele Inovatif yang mendorong pemberdayaan masyarakat desa.
Selain itu, tahun 2021, Peternakan Lele Ramadhan memenangkan program pemberdayaan UMKM tingkat provinsi dan masuk nominasi penghargaan wirausaha muda nasional.
Bagi Ramadhan, kunci keberhasilan ada pada kemauan belajar, konsistensi, dan keberanian untuk memulai. Ia selalu berpesan kepada generasi muda di Maros dan seluruh Indonesia:
"Jangan pernah malu untuk memulai dari nol. Kegagalan adalah guru terbaik. Keberhasilan bisa dicapai siapa saja, asalkan berani mencoba dan tidak mudah menyerah."
Kisah M. Nur Ramadhan dan Peternakan Lele Ramadhan memberikan pelajaran berharga bahwa inovasi, keuletan, dan semangat memberdayakan masyarakat mampu mengubah keterbatasan menjadi keunggulan. Usahanya di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, kini tidak hanya menjadi sumber pendapatan, tapi juga menjadi inspirasi bagi petani muda dan masyarakat perdesaan untuk berani berwirausaha di bidang perikanan. Semoga kisah ini dapat membangkitkan semangat dan membuka wawasan generasi muda untuk turut serta membangun daerah melalui usaha kreatif dan berkelanjutan.