Kabupaten Maros di Sulawesi Selatan terkenal sebagai penghasil padi dan wilayah strategis dekat Makassar. Namun, di tengah geliat pertumbuhan ekonomi, kisah inspiratif Sitti Nurul dan perjalanan Salon Nurul menjadi teladan tentang kegigihan, kreativitas, dan semangat wanita dalam berkarya.
Sitti Nurul berasal dari Desa Bontoa, Kabupaten Maros. Ia tumbuh dari keluarga sederhana yang mengajarkan nilai kejujuran dan kerja keras. Sejak remaja, Nurul sudah memiliki ketertarikan dengan dunia kecantikan. Ia sering mempraktikkan tata rias untuk keluarganya dan teman-teman di acara pernikahan maupun hajatan desa.
Tidak punya modal besar, Nurul mulai berbekal alat kecantikan sederhana yang ia kumpulkan dari tabungannya. Keahliannya dari menonton tutorial, membaca buku, dan mengikuti pelatihan keras di Makassar ia terapkan di Maros, menjadikan dirinya dikenal sebagai perias lokal yang handal.
Di tahun 2013, seiring meningkatnya permintaan layanan kecantikan di Maros, Nurul memutuskan membuka Salon Nurul di Jalan Poros Maros. Modal awalnya berasal dari tabungan pribadi dan pinjaman kecil dari koperasi desa. Sitti Nurul ingin menyediakan layanan yang berkualitas namun terjangkau untuk semua lapisan masyarakat.
“Saya percaya setiap perempuan layak merasa cantik dan percaya diri, regardless latar belakangnya,” kata Nurul.
Dalam perjalanan membangun salon, Nurul tidak lepas dari tantangan. Mulai dari persaingan bisnis, perubahan tren kecantikan, hingga keterbatasan modal.
Pandemi COVID-19 menjadi ujian berat. Bisnis mengalami penurunan pengunjung drastis. Namun, Nurul tetap membayar gaji karyawan meski pemasukan berkurang, dan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Ia bahkan berinovasi dengan layanan home service agar pelanggan tetap terlayani di rumah masing-masing.
Lewat ketekunan dan adaptasi perubahan, Salon Nurul mampu bertahan dan kembali bangkit pasca pandemi.
Keberhasilan Sitti Nurul tidak hanya tumbuh dalam bisnis, tetapi juga dalam pemberdayaan masyarakat dan pelestarian budaya lokal. Salon Nurul kerap dipercaya sebagai tim rias dalam acara adat, festival daerah, hingga mempersiapkan rias pengantin Bugis-Makassar. Nurul juga menjadi mentor bagi banyak perempuan muda yang ingin belajar tata rias ataupun menjadi pengusaha layanan kecantikan.
Beberapa prestasi yang diraih Sitti Nurul dan Salon Nurul, antara lain:
Keberadaan Salon Nurul telah memberikan dampak signifikan bagi ekonomi keluarga dan komunitas. Banyak perempuan Maros yang terinspirasi menjajal bisnis serupa atau mengembangkan keterampilan di bidang kecantikan. Nurul selalu berbagi ilmu lewat workshop dan kolaborasi dengan asosiasi kecantikan lokal.
Dalam hal sosial, Sitti Nurul aktif dalam kegiatan amal seperti memberi layanan gratis bagi lansia, dan menggalang donasi bagi korban bencana. Ia juga mendorong pemakaian kain dan kosmetik lokal, sehingga membantu pelestarian budaya dan pemberdayaan UMKM Maros.
Kisah Sitti Nurul menjadi inspirasi bagi generasi muda di Maros dan Sulawesi Selatan, terutama mereka yang memiliki keterbatasan modal atau pendidikan. Nurul membuktikan bahwa keberanian mengambil langkah, memanfaatkan peluang, dan membangun jaringan kerja dapat membawa perubahan besar.
Ia kerap berpesan, “Jangan takut untuk memulai. Yang terpenting adalah niat dan kegigihan. Semua pasti ada jalan jika kita mau berusaha.”
Saat ini, Salon Nurul telah berkembang menjadi salon terkemuka di Maros, melayani ratusan pelanggan setiap bulan, dan menjadi pusat kegiatan pemberdayaan serta pelatihan perempuan di bidang kecantikan.
Kisah Sitti Nurul dan Salon Nurul membuktikan bahwa wanita punya potensi besar menjadi pelaku utama dalam pembangunan ekonomi lokal dan pemeliharaan budaya daerah. Semangat pantang menyerah dan dedikasinya menjadi teladan bagi banyak pihak, menegaskan bahwa sukses dapat diraih siapa saja bila mau berusaha, belajar, dan berbagi.
Perjalanan Sitti Nurul dari desa sederhana menuju pengusaha sukses adalah gambaran nyata bahwa tekad, kerja keras, dan kepedulian sosial mampu mengubah kehidupan. Salon Nurul di Kabupaten Maros bukan sekadar bisnis kecantikan, tapi juga gerakan pemberdayaan perempuan, pembuka lapangan kerja, dan pemelihara tradisi lokal.
Semoga kisah inspiratif ini mampu memotivasi lebih banyak perempuan di Sulawesi Selatan dan Indonesia untuk terus berkarya, berusaha dan membangun masa depan yang lebih cerah.