Sitti Farhanah, seorang wanita asal Maros, Sulawesi Selatan, adalah sosok yang inspiratif berkat kegigihan dan kerja kerasnya dalam membangun bisnis jajanan pasar. Berawal dari keinginan untuk membantu ekonomi keluarga, Farhanah memulai usahanya pada tahun 2016 dengan berjualan kue-kue tradisional di pasar dekat rumahnya.
Tidak mudah bagi Farhanah pada awalnya. Modal yang terbatas dan pengetahuan usaha yang masih minim menjadi tantangan besar. Namun, semangat pantang menyerah yang dimiliki membuat Farhanah tetap mengambil langkah-langkah inovatif, seperti belajar resep dari orang tua, mencari referensi di internet, dan mengikuti pelatihan UMKM yang diadakan oleh Dinas Koperasi Kabupaten Maros.
Jajanan Pasar Farhanah merupakan merek usaha yang didirikan Farhanah dengan spesialisasi produksi kue-kue tradisional khas Sulawesi Selatan, seperti onde-onde, lapis, barongko, talam, putu mayang, dan beberapa kudapan lokal lainnya. Produk-produk Farhanah selalu menggunakan bahan baku berkualitas demi menjaga rasa dan cita rasa yang otentik.
Farhanah sangat memperhatikan kualitas, mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses pembuatan. Ia juga memperbarui kemasan agar menarik dan higienis sehingga pelanggan merasa lebih nyaman dan percaya dengan produk yang dijual.
Berkat inovasi dan ketekunan, Jajanan Pasar Farhanah kian dikenal di Kabupaten Maros. Farhanah memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan Instagram untuk memasarkan produknya. Promosi online sangat efektif dalam menarik pelanggan baru, terutama dari kalangan milenial yang mulai tertarik dengan jajanan pasar tradisional.
Selain menjual di pasar, Farhanah menerima pesanan untuk acara keluarga, pesta, arisan, hingga hajatan. Ia juga bekerja sama dengan toko-toko dan kafe lokal untuk menitipkan produknya. Seiring waktu, omzet bisnis meningkat pesat, dan Farhanah mampu mempekerjakan beberapa tetangga sebagai karyawan untuk membantu produksi.
Di sepanjang perjalanannya, Farhanah menghadapi berbagai tantangan, terutama saat pandemi Covid-19 melanda. Penurunan daya beli masyarakat dan pembatasan aktivitas di pasar membuat bisnisnya sempat terhenti. Namun, Farhanah tidak menyerah; ia segera beradaptasi dengan menawarkan layanan antar jajanan ke rumah pelanggan serta membuat paket jajanan untuk dikirim keluar kota.
Farhanah juga mengikuti pelatihan digital marketing yang diselenggarakan oleh pemerintahan setempat. Pelatihan ini menjadi solusi bagi Farhanah untuk menambah pengetahuan dalam pemasaran digital, memperluas jaringan usaha, dan mengelola keuangan bisnis secara lebih profesional.
Keberhasilan Farhanah tidak hanya menambah penghasilan keluarganya, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan sekitar. Dengan bertambahnya produksi, Farhanah dapat memberikan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar, terutama ibu-ibu rumah tangga yang ingin memperoleh penghasilan tambahan.
Kisah Farhanah menjadi motivasi bagi banyak warga Maros untuk mencoba berwirausaha. Ia sering diundang dalam kegiatan pelatihan UMKM untuk berbagi tips dan pengalaman, menginspirasi peserta pelatihan agar tidak takut memulai bisnis, meskipun dengan modal kecil.
Farhanah memiliki visi ke depan untuk memperluas pasar jajanan tradisional ke luar Sulawesi Selatan. Ia berencana memanfaatkan e-commerce agar produknya bisa menjangkau konsumen di seluruh Indonesia. Selain itu, Farhanah ingin membuka outlet jajanan pasar Farhanah di beberapa kota besar.
Farhanah percaya bahwa dengan terus menjaga kualitas, inovasi, serta pelayanan yang baik, bisnis jajanan pasar dapat menjadi bisnis unggulan yang membanggakan daerah Maros. Ia juga berharap bisnisnya dapat membawa nama jajanan tradisional Sulawesi Selatan lebih dikenal di tingkat nasional.
Kisah sukses Sitti Farhanah dan Jajanan Pasar Farhanah di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menunjukkan bahwa keuletan, kerja keras, dan inovasi adalah kunci utama dalam membangun bisnis. Farhanah membuktikan bahwa usaha jajanan pasar tradisional tetap relevan dan memiliki potensi besar jika dikelola dengan baik dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Usaha Farhanah tidak hanya bermanfaat secara ekonomi, namun juga memberikan dampak sosial yang positif bagi masyarakat Maros. Semoga kisah ini memberi inspirasi bagi para pelaku UMKM dan seluruh masyarakat Indonesia untuk terus berjuang dan berkembang melestarikan kuliner tradisional.